Diary of an IT Guy #AnakBinus

Build Bridges, not Walls. Collaboration Forever!

Posts Tagged ‘karir

Panduan Cara Menulis SMART Goals

leave a comment »

Apa itu SMART Goals?

  • Statements dari hasil penting yang ingin Anda capai.
  • Dirancang sedemikian rupa untuk menumbuhkan saling pengertian yang jelas dan timbal balik tentang apa yang merupakan tingkat kinerja yang diharapkan dan pengembangan profesional yang berhasil

Apa saja kriteria SMART ?

S Specific Apa yang akan dicapai? Tindakan apa yang akan Anda ambil?
M Measurable Data apa yang akan mengukur tujuan? (Berapa banyak? Seberapa baik?
A Achievable Apakah tujuannya dapat dilakukan? Apakah Anda memiliki keterampilan dan sumber daya yang diperlukan?
R Relevant Bagaimana tujuan tersebut selaras dengan tujuan yang lebih luas? Mengapa hasilnya penting?
T Time-Bound Apa kerangka waktu untuk mencapai tujuan?

 

Selengkapnya bisa didownload di link ini .

Written by isal

9 April 2020 at 15:27

Ditulis dalam Bisnis, karir, motivasi

Tagged with , ,

Sharpen Your Saw or Die!

leave a comment »

Hari ini kita akan diskusi tentang bagaimana pentingnya kita untuk selalu belajar, berubah dan selalu mempertajam kompetensi kiya.
Tulisan ini terinspirasi oleh telpon yang saya tetima dari seorang teman yang sedang bekerja di New York selama 2 tahun belakangan ini. Sebut saja namanya Heni.
Heni adalah seorang profesional muda yang bekerja di global headquarter sebuah perusahaan multinasional.
Orangnya ramah, simpatik dan baik hati.

Anyway dia bilang,”Pak Pam… saya selalu membaca tulisan Pak Pam yang inspiring. Dan saya suka sekali.”
Heni melanjutkan,”Saya juga mengerti … saya harus berubah, saya harus belajar hal hal baru untuk meningkatkan market value saya dan saya harus improve. Tapi kapan waktunya pak? Waktu saya habis tersita untuk pekerjaan saya. Belum saya harus mengurus 2 anak dan appartemen saya. Tanpa pembantu. Bagaimana saya punya waktu untuk belajar hal hal yang baru? Learning agility? Is this something that I can really develop when I am this busy?”.

Saya pun menceritakan ke Heni tentang pengalaman saya bersama kakak saya waktu pulang ke Magetan naik mobil berdua (gantian nyetir) belasan tahun yang lalu.

Karena kakak saya terburu buru dia pun menyetir cepat cepat.
Kadang kadang saya mencoba mengingatkannya agar dia berhenti sejenak untuk mengecek ban dan oli karena perjalanan yang cukup jauh (sekitar 800 km).
Tetapi jawabannya adalah dia tidak punya waktu karena tergesa gesa.
Sampai akhirnya ….. sesaat sebelum masuk Semarang … malam malam, mobilnya rusak mesinnya dan harus turun mesin karena masalah oli (yang tidak dicek pada pagi harinya meskipun diingatkan).

Malam hari, mesin rusak, turun mesin. That’s almost the worse thing that could happen to you.
Mengapa ini terjadi?
Karena tidak dicek mesinnya?
Mengapa ?
Karena merasa tidak punya waktu.

Wrong!!!
You always have the time. Kita selalu punya waktu.
The problem is what do we do with the time that we have in our hands.
Kakak saya bisa memutuskan untuk mengecek mesin dan olinya.
Atau memutuskan untuk tidak pernah mengecek dan menyetir terus.
Akhirnya turun mesin. Dan akibatnya lebih fatal.

Heni punya masalah yang sama. What does she do with the time in her hand?
Dia bisa memutuskan untuk belajar di antara waktu yang masih pekerjaannya, atau tidak pernah belajar.
Padahal dunia bisnis berubah begitu cepat sedemikian hingga knowledge dan kompetensi Heni akan menjadi tidak relevant di masa depan.
Dan kalau bisnisnya terus berubah padahal knowledge dan kompetensinya tidal di upgrade… lama lama otak Heni akan turun mesin.

So remember, upgrading your knowledge and competence is not about increasing your market value .

It is about survival.

Sharpen your saw or die. Baca entri selengkapnya »

Written by isal

26 April 2016 at 09:39

Ditulis dalam motivasi

Tagged with , ,

Talent Development

leave a comment »

Dalam suatu pertemuan “kick off” dalam rangka dimulainya program pengembangan talenta karyawan, beberapa individu terpilih yang jelas terlihat sebagai ‘creme de la crème’-nya organisasi, bertanya tentang apa ukuran keberhasilannya dan kapan berakhirnya program ini. Betapa sering kita menganggap bahwa program-program pelatihan, pembinaan, ‘coaching’ dan ‘counseling’ adalah sebuah upaya komplit untuk mengubah atau mengembangkan seseorang. Padahal, kita juga tahu, bahwa masa depan demikian terbuka lebar dan jauh, harus diarungi seseorang dari waktu ke waktu. Sadarkah kita bahwa pengembangan diri sebetulnya terjadi secara pribadi, dalam diri individu, tidak melulu bersama lembaga tempat kita bekerja? Di satu sisi kita sadar betapa organisasi harus menginvestasikan biaya tidak sedikit untuk pengembangan. Di sisi lain, tidak sedikit individu yang terpilih untuk mengikuti program pengembangan dan coaching tidak menunjukkan wajah happy saat duduk di kelas pelatihan, bahkan ada yang mengeluhkan program pengembangan sebagai “beban” tambahan disamping pekerjaannya yang harus ia jalani.

Kita sering lupa bahwa ambisi pribadi, kehendak meraih sesuatu yang lebih baik dan keinginan berkembang adalah hak dan sekaligus juga kewajiban diri sendiri. Kehendak dan ambisi ini, akan sangat berguna, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk teman sekerja, perusahaan, keluarga bahkan negara. Namun, betapa sering kita melihat individu lelah mengembangkan diri. Misalnya, seseorang yang rencananya pensiun pada usia 56 tahun, sudah lelah ketika ia memasuki usia 50. Seorang ‘fresh graduate’ pilihan, tiba-tiba kecewa mengetahui lembaga yang dimasuki tidak lagi menyediakan fasilitas belajar ke luar negeri. Pertanyaannya, apakah kita sudah menetapkan strategi karir kita? Apakah kita sudah mempunyai peta pengembangan pengetahuan, ketrampilan, pergaulan, untuk menjadi “a better self”? Apakah mungkin sekedar “go with the flow” dalam persaingan ketat begini? Apakah kita bisa mengalah dengan hasil yang ‘sedang sedang saja”?

Semangat untuk Mencapai “Lebih”
Di beberapa lembaga, kerap terjadi fenomena aneh. Calon pegawai menengah yang sudah terseleksi ketat, pada tahun kelima perekrutan, sudah menunjukkan perlambatan pengembangan diri. Mereka menjadi orang-orang yang super patuh, sangat prosedural, sangat birokratis dan akhirnya ‘lupa’ mengembangkan diri. Dalam situasi begini, “pihak” yang paling dipersalahkan adalah ‘kultur perusahaan”. Banyak orang percaya bahwa kultur perusahaan bisa ‘menyulap’ orang yang tadinya berinisiatif, ambisius, kritis, menjadi orang yang berbeda secara 180 derajat. Padahal, di lembaga yang sama ada juga individu yang ‘survive’ dan menampilkan sikap manajerial dan kepemimpinan yang keren. Hanya saja, individu seperti ini tidak banyak. Ketika saya menanyakan kepada salah satu direktur yang berhasil ‘tampil beda’ di budaya yang terkenal birokratis ini, ia menyatakan,”Sebenarnya, asal kita selalu ‘eling’ untuk mengembangkan diri sendiri, kita bisa maju. Bahkan di kultur yang tidak produktif begini, kita menjadi lebih mudah ‘bersaing’”. Kita sering lupa bagaimana kita bisa ‘memakai’ potensi yang ada dalam diri kita untuk sesuatu yang berguna bagi diri kita sendiri , perusahaan atau bahkan negara ini. Pernahkah kita menghitung berapa banyak bakat, potensi dan enerji terpendam yang belum kita gunakan?
Baca entri selengkapnya »

Written by isal

28 September 2012 at 10:30

Inspiring Story: Cita rasa lidah yang berubah

with 7 comments

Inspiring story diambil dari buku Andys Corner – Kumpulan curahan hati Andy F Noya mengenai cita rasa yang berubah dari perjalanan hidup seorang manusia dan kena banget buat diriku. Dulu pas kuliah makan pecel lele kok nikmat bgt ya..sekarang kok jadi gak enak? Apakah ada yang salah? Emang pecel lele-nya jadi gak enak atau emang cita rasa lidah ini yang sudah berubah?

——–

GADO-GADO

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?

Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Baca entri selengkapnya »

Written by isal

18 September 2008 at 05:53

Balada Seorang IT

with one comment

High Risk High Gain
begitulah orang bilang akan suatu pekerjaan yang menantang
Semakin besar resikonya semakin besar juga uang yang didapat
Ah benarkah seperti itu?

Ya memang ada benarnya
Tapi gak bisa digeneralisir seperti itu

kadang dalam pekerjaan yang digeluti
aku merasa begitu kesepian
Setiap hari berkutat dengan server-server terus
sedangkan kerjaan ini selalu dilakukan seorang diri

setiap bangun tidur selalu ingat kantor
buka blackberry
apakah ada masalah dengan server
apakah server down?
apakah backup berjalan sempurna?
apakah storage masih mencukupi?
apakah virus bergentanyangan
apakah email diblok ama spamhaus dan barracuda network?

pernah suatu malam di hari libur
si bos gak bisa kirim email
kepaksa buka selimut harus ke kantor
eh ternyata server nge-hang gara-gara AC ruang server gak dingin
wah untung cepat ditangani

selain itu si bos kirim email sangat besar
lebih dari 50 MB
wahh ini juga yang bikin hang
mana mungkin blackberry nerima email segede bagong begitu
anehnya padahal quota max send size dibatasi ke 15 MB
yah malam itu masalah selesai jam setengah tiga pagi senin dinihari

Amanah ini memang cukup besar
bos tidak mentolerir server apalagi email down
apalagi blackberry harus selalu on
klien is the firts priority
semakin cepat respons
klien semakin senang..
uang pun mengalir dengan tenang…

ah begitulah nasib seorang IT
tapi beruntung juga ya dibandingkan dengan bos
orang IT masih bisa tidur at least 5 jam sehari
sedangkan bos tidurnyapaling 2 jam sehari
ada di kantor ada di mobil
pantesan dia mendapatkan gain yang berlimpah

sedangkan kita?
males memang selalu menjadi tabir yang harus didobrak
hayoooohh jgn malesss…
lawan…

Written by isal

19 Juni 2008 at 16:38

Ditulis dalam Obrolan, Power

Tagged with , , , , , , ,

Mencari Uang atau Mencari Prestasi

with 4 comments

Sering kali kalau saya meng-interview seseorang karyawan baru khusus untuk
departemen kami, senantiasa terlontar sebuah pertanyaan sangat menentukan
sikap. Saya menanyakan, apa alasan ybs mau bekerja di perusahaan/departemen
kami.

Jawaban sangat bervariasi dan sebagian besar menjawab dengan klise seperti
“untuk menambah pengalaman”, “menambah ilmu” dsb. Mereka biasanya setelah
diberikan kesempatan untuk memperjelas alasan yang tepat, akhirnya
ujung-ujungnya mengatakan “mencari uang”.

Baca entri selengkapnya »

Written by isal

22 Mei 2007 at 12:34

Ditulis dalam Power

Tagged with , , , , , , ,

%d blogger menyukai ini: