Diary of an IT Guy #AnakBinus

Build Bridges, not Walls. Collaboration Forever!

Networking: Perbedaan antara OSI Model vs TCP/IP serta Apa kegunaannya

leave a comment »

Industri jaringan mempunyai sebuah standar model tujuh lapisan untuk arsitektur protokol komunikasi jaringan. Arsitektur ini dinamakan Open Systems Interconnection (OSI) model. OSI model merepresentasikan usaha yang dilakukan International Organization for Standardization (ISO) untuk menstandarisasi design dari sistem dari protokol jaringan dengan tujuan interoperabilitas dari bermacam-macam sistem komunikasi dan juga untuk interkonektivitas dan akses terbuka bagi pengembang software dan perangkat jaringan.

Model OSI ini merupakan pengembangan dari model protokol komunikasi jaringan yang sudah ada sebelumnya, yakni TCP/IP model. TCP/IP model mungkin lebih populer digunakan dalam menggambarkan cara kerja jaringan dan lebih tua dari model OSI. Kedua model di atas memiliki beberapa lapisan. Berikut adalah perbedaannya:

OSI Layers Protocol Suite Protocol Data Unit (PDU) TCP/IP Layers
Application Layer HTTP, SMTP, Telnet, POP3, IMAP, FTP, HTTP Data Application Layer
Presentation Layer MIME,
Session Layer Netbios, RPC, L2TP, PPTP
Transport Layer TCP / UDP Segment (TCP) / Datagram (UDP) Transport Layer
Network Layer ARP, IP, IGMP, ICMP Packet Internet Layer
Data Link Layer Ethernet, Token Ring, ATM, Frame relay Frame Network Access Layer
Physical Layer Bit

Berikut ini penjelasan singkat tentang masing-masing lapisan model OSI.

  1. Physical : menentukan cara memindahkan bit dari satu perangkat ke perangkat lainnya. Ini menjelaskan bagaimana kabel, konektor dan kartu jaringan (LAN Card) seharusnya bekerja dan bagaimana mengirim dan menerima bit.
  2. Data Link : merangkum/men-enkapsulasi sebuah paket dalam sebuah frame. Frame akan berisi header dan trailer yang memungkinkan perangkat untuk berkomunikasi. Header biasanya berisi alamat MAC sumber dan tujuan. Untuk trailer umumnya berisi field Frame Check Sequence, yang digunakan untuk mendeteksi kesalahan transmisi. Datalink layer memiliki dua sublapisan:
  1. Logical link control, digunakan untuk kontrol aliran dan deteksi kesalahan.
  2. Media Access Control – digunakan untuk pengalamatan perangkat keras dan untuk mengontrol metode akses.
  1. Network: menentukan pengalamatan perangkat, routing, dan penentuan jalur. Pengalamatan perangkat digunakan untuk mengidentifikasi host di jaringan (misalnya berdasarkan alamat IP-nya).
  2. Transport : membagi bagian data yang besar yang diterima dari protokol lapisan atas. Menetapkan dan mengakhiri koneksi antara dua komputer. Digunakan untuk kontrol aliran dan pemulihan data.
  3. Session: mendefinisikan cara menetapkan dan menghentikan sesi antara dua sistem.
  4. Presentation: mendefinisikan format data. Encoding karakter, kompresi data dan enkripsi/dekripsi didefinisikan pada lapisan ini.
  5. Application: lapisan ini paling dekat dengan pengguna. Ini memungkinkan aplikasi jaringan untuk berkomunikasi dengan aplikasi jaringan lainnya.

Dari grafik tabel di atas, maka dapat disarikan perbedaan antara OSI dan TCP/IP layer:

  1. Dalam menjelaskan proses komunikasi data di jaringan, OSI Model memiliki 7(tujuh) Layer sedangkan pada TCP/IP Model hanya memiliki 4(empat) Layer.
  2. Di dalam OSI Layer terdapat tiga layer yang berkaitan dengan Aplikasi (Application, Presentation, dan Session) sedangkan dalam TCP/IP hanya satu Layer yaitu Application Layer
  3. Dalam OSI Layer Proses komunikasi data di dalam jaringan fisik, dimodelkan dalam dua layer (Data Link dan Physical Layer) sedangkan pada TCP/IP dimodelkan dalam satu layer yaitu Network Access.
  4. Dalam menjelaskan cara kerja jaringan, TCP/IP lebih populer untuk digunakan karena lebih sederhana dan lebih mudah dijelaskan ketimbang model OSI. Namun untuk kebutuhan troubleshooting maka model OSI banyak digunakan oleh pihak pengembang dan praktisi jaringan.

Berikut adalah gambaran secara grafis bagaimana bermanfaatnya lapisan model di atas dalam memvisualkan perjalanan data di jaringan dimana data dikirimkan dari server A menuju server B dengan melewati beberapa tahapan layer yang memiliki masing-masing fungsi sebagaimana dijelaskan di atas.

Data dari yang dikirim dari server A dari jaringan A dilakukan encapsulasi melewati beberapa tahapan layer, kemudian dikirimkan dalam bentuk sinyal digital berupa bits melalui jaringan fisik untuk kemudian dilakukan decapsulasi di jaringan B dan akhirnya data diterima di server B.

Written by isal

4 Desember 2019 pada 22:41

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: